Thank you, God….

December 5th, 2008 by eve-me

Di kehidupan kita masing-masing pasti ada yang namanya turning point atau titik balik…. Biasanya titik balik itu adalah kejadian luar biasa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita…baik itu menyenangkan atau menyedihkan..

Salah satu turning point dalam kehidupanku menurut ku adalah waktu pertama kali Tuhan ijinkan aku untuk berpisah dengan kedua orang tua ku. Kejadian yang papa alami di Padang mengharuskan kita sekeluarga terpisah… Sesuatu yang nggak pernah kita alami sebelumnya. Waktu itu aku masih SMP. Masa-masa itu termasuk masa yang paling sulit yang pernah aku jalani… Aku belum cukup dewasa untuk mengerti bahwa semua itu rencana Tuhan….

Tapi kalau sekarang di flashback lagi, aku bisa lihat kalau Tuhan memang sudah atur alur hidupku dengan sempurna…

Seandainya waktu itu nggak ada masalah apa-apa, kita sekeluarga pasti masih di Padang dan bukan tinggal di Malang. Kalau aku nggak tinggal di Malang, mustahil aku sekolah di Kalam Kudus. Seandainya aku nggak sekolah di Kalam Kudus, nggak akan pernah ada VG Angels dan kita nggak akan pernah ikut lomba-lomba yang berakibat, nggak mungkin aku kenal Kak Jo yang nantinya nge-rekomendasikan kita buat ikut One Praise-Gita Getsemani yang sekarang jadi bagian hidup paling penting buat ku… Kalau aku nggak pindah ke Malang juga belum tentu aku bisa kuliah di Brawijaya dan dapat pekerjaan seperti yang aku dapat sekarang…. Pekerjaan yang sudah jadi cita-cita ku sejak aku tahu arti kata cita-cita…

Kalau aku nggak pindah ke Malang waktu itu, aku juga nggak akan bertemu dengan orang-orang luar biasa yang bawa dampak besar dalam hidup ku…sekali lagi sebagian besar dari mereka adalah keluarga besarku di Gita Getsemani…. Selain itu di sini, di Malang, aku juga bertemu dengan orang-orang istimewa yang bersama dia aku belajar arti bersahabat, berbagi, mencintai dan dicintai… Semuanya memproses aku terus bertumbuh dan belajar untuk lebih dewasa.

Hmm…Tuhan memang luar biasa….

Tuhan baru-baru ini ingatkan lagi tentang ini waktu aku lagi mengeluh karena apa yang aku mau nggak berjalan seperti yang aku harapkan, which is adalah kelemahan terbesar ku… Aku gampang sekali marah if something didn’t happen as I want it to be… It’s painful and frustrating..

Tapi Tuhan bawa flashback ini lagi ke aku untuk menunjukkan bahwa Tuhan lebih tau apa yang terbaik buat aku… Sama seperti dulu Tuhan sudah atur jalan hidupku, Tuhan akan melakukan hal yang sama sekarang…. Aku hanya perlu menunggu dan bersabar sebentar sampai nanti suatu hari aku bisa melihat kebelakang dan berkata, terimakasih Tuhan untuk turning point lain yang Tuhan ijinkan buat aku alami… Malu rasanya sekarang kalau ingat bagaimana aku sudah bertindak sok tahu ke Tuhan dengan memaksakan apa yang aku mau…

Kalau kita mau ambil waktu sebentar untuk merenung, kita pasti akan menemukan bahwa kita semua juga punya turning point. Mungkin bentuk dan kejadiannya berbeda-beda..

Tapi yang pasti cobalah setiap kali kita mulai meragukan Tuhan dan sok tahu akan kehidupan kita, ingatlah turning point kita dan karya Tuhan melaluinya…. Setelah itu kita pasti akan merasa tenang dan nggak lagi ragu karena kita tahu ada THE GREATEST PLANNER yang mengatur setiap langkah dan setiap detail hidup kita…

God bless you all…..

Bookmark and Share

HIS Eye is on the Sparrow

October 23rd, 2008 by eve-me

Aku tau lagu ini dari khotbah di gereja beberapa waktu yang lalu….. Satu hal yang pasti, lagu ini bener jadi berkat buat aku….. Siapa bilang lagu hymn membosankan….??!

 

Why should I feel discouraged,
Why should the shadows come,
Why should my heart be lonely,
And long for heav’n and home,
When jesus is my portion,
My constant friend is he;
His eye is on the sparrow,
And I know he watches me.

I sing because I’m happy,
I sing because I’m free;
For his eye is on the sparrow,
And I know he watches me.

“let not your heart be troubled,”
His tender word I hear,
And resting on his goodness,
I lose my doubts and fears,
Tho’ by the path he leadeth,
But one step I may see;
His eye is on the sparrow,
And I know he watches me.

Whenever I am tempted,
Whenever clouds arise,
When song gives place to sighing,
When hope within me dies,
I draw the closer to him;
From care he sets me free;
His eye is on the sparrow,
And I know he watches me.

Bookmark and Share

God is soo good…

June 16th, 2008 by eve-me

Hari-hari ini Tuhan ingatkan aku dengan cara yang luar biasa kalo Tuhan itu emang tau apa yang terbaik buat kita. Even lewat masalah sekalipun, Tuhan bisa jadikan itu alat untuk menunjukkan kasihNya. Seringkali waktu kita dapet masalah yang kita anggap berat,kita ngeluh dan complain… Tapi coba deh..sabar aja sebentar… Kita akan sadar bahwa ternyata masalah yang kita alami bukan aja sekedar untuk membentuk kita…, tapi juga justru melalui masalah itu, Tuhan sedang membelokkan jalan kita supaya kita gak mengalami masalah yang jauh lebih besar… What I said above is based on the real experience… Gak percaya…?? Just wait and see…you’ll see that what I said is totally true!!!

Bookmark and Share

Allahpun Menangis dengan Bangga

June 13th, 2008 by eve-me

Saat itu adalah musim panas dimana hujan belum turun hampir satu bulan lamanya. Tanaman jagung hampir mati. Sapi-sapi tidak menghasilkan susu.

Sungai-sungai mengering seperti menyusut ke dasar bumi. Itu adalah musim kering yang cukup parah bahkan ada kemungkinan sebelum musim panas berakhir banyak dari para petani sudah harus mengalami kebangkrutan.

Setiap hari suamiku dan adik laki-lakinya berusaha semaksimal mungkin mengairi ladang kami walau dengan proses yang amat sukar. Dan akhirnya proses ini melibatkan sebuah truk yang harus di bawa ke pabrik penyimpan air setempat dan mengisinya dengan air.

Namun tindakan penjatahan yang ketat ini telah membuat banyak orang kesusahan.

Seandainya hujan tidak turun juga dengan segera … kami akan kehilangan segalanya.

Hari itu adalah hari dimana aku boleh mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga tentang memberi dan aku menyaksikan sendiri mujizat yang terjadi.

Saat itu aku sedang di dapur menyiapkan makan siang ketika aku melihat anak laki-lakiku, Billy, yang berumur enam tahun sedang berjalan ke hutan. Langkahnya tidak seperti anak kecil pada umumnya tapi seperti sedang berjalan dengan satu tujuan yang sangat penting sekali.

Aku hanya bisa melihat punggungnya saja.

Jelas sekali dia berjalan dengan upaya yang cukup besar … mencoba untuk semaksimal mungkin berjalan dengan tenang. Baru sebentar dia menghilang di dalam hutan, dengan segera dia sudah terlihat kembali sambil berlari dengan kencang menuju rumah. Saat itu aku tidak terlalu perduli, aku pikir urusannya sudah selesai dan kembali meneruskan kegiatanku. Tetapi, sesaat kemudian, kembali aku melihat Billy, sekali lagi dengan langkah-langkahnya yang diupayakan tetap tenang sedang berjalan menuju hutan.

Hampir satu jam dia melakukan hal itu: berjalan dengan sangat hati-hati ke hutan, lalu kembali ke rumah dengan berlari. Akhirnya setelah mengamati sekian lama aku tidak tahan lagi, aku langsung keluar mencoba untuk mengikutinya (namun berusaha untuk tidak diketahui… sepertinya dia tidak ingin ibunya tahu pekerjaan penting yang sedang dikerjakannya) .

Dia berjalan dengan tangan yang sedang menangkup air, dan terus mencoba untuk tidak menumpahkan satu tetespun … kemungkinan air ditangannya yang kecil itu paling-paling hanya sebanyak dua atau tiga sendok makan. Aku berusaha untuk mencoba lebih mendekat saat dia sedang berjalan menuju hutan. Ranting-ranting pohon dan duri mengenai wajah kecilnya, tapi dia sama sekali tidak mencoba untuk menghindar. Dia lebih memusatkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dia kerjakan.

Ketika aku sedang mengawasinya, disaat itulah aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Beberapa rusa besar bermunculan dihadapannya. Billy berjalan tepat ke arah mereka. Hampir aku berteriak untuk menyuruhnya menjauh. Seekor rusa jantan besar dengan tanduknya yang indah datang mendekat. Tapi rusa itu tidak melakukan apa-apa…bahkan ketika Billy duduk berlutut.

Dan aku melihat seekor anak rusa kecil tergelak di tanah dan jelas sekali sedang menderita dehidrasi dan keletihan yang amat sangat. Aku melihat anak rusa itu dengan usaha yang keras mencoba mengangkat kepalanya untuk bisa menjilat air dari tangan kecil anakku.

Ketika airnya habis, dengan segera Billy melompat berdiri untuk segera kembali berlari ke rumah dan aku segera bersembunyi di balik pohon. Aku mengikutinya kembali ke rumah dan dia berjalan menuju keran yang telah kami tutup. Billy membukanya dan aliran air yang sangat kecil meluncur turun. Dia menadahkan tangannya sambil berjongkok, menunggu air yang mengalir sangat lambat itu memenuhi tangannya dan sinar matahari yang panas menyinari punggungnya.

Semua menjadi jelas sekarang: Minggu lalu dia telah bermain-main dengan selang air dan telah membuang air dengan sia-sia. Dia harus menerima hukuman untuk hal itu. Itulah sebabnya dia berusaha untuk tidak minta tolong kepadaku.

Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan kecilnya. Setelah penuh dia berdiri dan mencoba untuk kembali ke hutan, disaat itulah dia baru menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata yang hampir mengalir dia berkata, "aku nggak sedang buang-buang air," katanya.

Ketika dia kembali memulai perjalanannya lagi, aku telah menemaninya. ..kali ini dengan membawa mangkuk kecil yang sudah berisi air. Aku menunggunya dari jauh dan membiarkannya memberi minum anak rusa itu. Itu adalah pekerjaannya. Aku berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah hati yang luar biasa indah yang dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk menyelamatkan sebuah kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air yang lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang ke langit dan bisa merasakan bahwa Allah pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan.

Bahwa mujizat itu tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun.

Aku tidak dapat mendebatnya. .. dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku katakan hanyalah bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan pertanian kami…seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang telah menyelamatkan nyawa makhluk lain.
ngnya.

Semua menjadi jelas sekarang: Minggu lalu dia telah bermain-main dengan selang air dan telah membuang air dengan sia-sia. Dia harus menerima hukuman untuk hal itu. Itulah sebabnya dia berusaha untuk tidak minta tolong kepadaku.

Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan kecilnya. Setelah penuh dia berdiri dan mencoba untuk kembali ke hutan, disaat itulah dia baru menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata yang hampir mengalir dia berkata, "aku nggak sedang buang-buang air," katanya.

Ketika dia kembali memulai perjalanannya lagi, aku telah menemaninya. ..kali ini dengan membawa mangkuk kecil yang sudah berisi air. Aku menunggunya dari jauh dan membiarkannya memberi minum anak rusa itu. Itu adalah pekerjaannya. Aku berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah hati yang luar biasa indah yang dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk menyelamatkan sebuah kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air yang lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang ke langit dan bisa merasakan bahwa Allah pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan.

Bahwa mujizat itu tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun.

Aku tidak dapat mendebatnya. .. dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku katakan hanyalah bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan pertanian kami…seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang telah menyelamatkan nyawa makhluk lain.

Bookmark and Share